1.
Keteladanan Kepribadian Nabi Muhammad SAW
Sejak masih kecil, remaja, sampai dewasa Nabi Muhammad sudah dikenal oleh
masyarakat Mekkah sebagai orang yang mempunyai kepribadian baik, berbeda dengan
kebanyakan orang saat itu. Penampilannya pun sederhana, bersahaja, dan
berwibawa. Ketika ia berjalan badannya agak condong ke depan, melangkah sigap
dan pasti. Air mukanya menujukkan pikirannya yang cerdas, tajam, dan jernih.
Pandangan matanya menunjukkan keteduhan dan kewibawaan, membuat orang patuh
kepadanya. Ia juga dikenal sebagai orang yang jujur dalam setiap perkataan
maupun perbuatan sehingga dijuluki Al-Amin
[yang dapat dipercaya] untuk masyarakat Madinah.
Muhammad juga bukan termasuk orang yang suka mengobrak kata, ia berkata
seperlunya, dan ia lebih banyak mendengarkan. Bila bicara selalu
bersungguh-sungguh, tapi sungguh pun begitu ia pun sesekali membuat humor dan
bersenda-gurau, tapi yang dikatakannya itu yang selalu sebenarnya. Sifatnya
yang demikian juga sangat berbeda dengan kebanyakan orang Mekkah yang suka
berbohong, membual, dan sulit dipercaya.
Dengan sifatnya yang demikian itu tidak heran bila Khadijah, majikannya
menaruh simpati kepadanya, dan tidak pula mengherankan bila Muhammad diberi
keleluasaan mengurus hartanya. Khadijah juga membiarkannya menggunakan waktu
untuk berfikir dan menuangkan hasil pemikirannya. Akhirnya Muhammad dan
Khadijah menikah menjadi sepasang suami istri yang sangat harmonis dan disegani
oleh penduduk Mekkah. Itu karena, di samping kaya dan berasal dari keturunan
terpandang, pasangan suami istri ini tidak tinggi hati dan gila hormat. Bila
ada yang mengajaknya bicara ia mendengar dan memperhatikannya tanpa menoleh
kepada orang lain. Perilakunya yang demikian sangat berbeda dengan kebanyakan
orang di Mekkah yang menjadi sombong dan congkak ketika dihormati, dan
marah-marah ketika merasa tidak dihormati.
Setiap bertemu orang Muhammad selalu tersenyum. Pada saat-saat tertentu
juga bercanda dan terkadang tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah
tidak pernah sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak
sedikit berkeringat. Ini disebabkan ia menahan rasa amarah dan tidak mau menampakkannya
keluar. Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada, berkemauan
baik dan menghargai orang lain. Ia bijaksana, murah hati dan mudah bergaul.
Tapi ia juga mempunyai tujuan pasti, berkemauan keras, tegas dan tak pernah
ragu ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian ini berpadu dalam dirinya dan
meninggalkan pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang bergaul dengan
dia. Bagi orang yang melihatnya tiba-tiba, sekaligus akan timbul rasa hormat,
dan bagi orang yang bergaul dengan dia akan timbul rasa cinta kepadanya.